Langsung ke konten utama

Terima Kasih Lala

Tahu Teletubbies? Buat anak-anak angkatan 90an pasti tahu lah ya. Tontonan anak-anak yang diisi oleh satu geng boneka berisi 4 boneka lucu. Ada Tinky Winky, Dipsy, Lala, sama Po. Jujur waktu kecil gue lebih seneng nonton Teletubbies daripada nonton sinetron.


Nah, awal mula nostalgia gue sama Teletubbies bermula ketika gue lagi disibukkan sama tugas-tugas kuliah dan kerjaan yang datangnya tawuran. Emang tugas-tugasnya pada cemen sih, pada ga berani datang sendiri.

Saking sibuknya, stik ps sampai lama ga kesentuh. Gue curiga pemain gue di football manager udah pada pindah ke klub lain saking lamanya ga gue mainin. *padahal gue mainnya offline

Saking banyaknya tugas, wajah gue udah keliatan suntuk banget. Mungkin gegara ga tega ngeliat wajah gue yang suntuk, temen gue ngirimin link yang isinya adalah........

MEME TELETUBBIES


Yap, meme yang akhir-akhir ini lagi ngehits. Padahal isinya simple banget, Lala yang salah nyebutin nama dan dibully sama Po. Tapi itu udah bisa ngebikin gue ngakak dan ga suntuk lagi. Meski tugas belum jadi, tapi seengga'nya gue ga suntuk lagi.

Karena meme ini gue ga jadi ngabisin duit buat ngilangin suntuk dengan liburan ke Pulau Seribu. Karena cuma dengan ngeliat Lala dibully suntuk gue udah ilang.

Ternyata kebahagiaan bisa didapat dari mana saja, termasuk ngeliat Lala dibully. Terima kasih Lala.


NB: Buat kalian yang suka ngebully Lala, hati-hati ya. Takutnya Lala udah habis kesabaran dan ngelaporin kalian atas dasar tindakan tidak menyenangkan.

Komentar

  1. Wahhh... ngomongin Teletubbies.. lucu, ngegemesin, manis, pengen deh ketemu mereka langsung.. hahahaa... :D

    Meskipun bukan anak kecil lagi, aku masih suka kok sama Teletubbies, bahkan kadang keponakanku nonton Teletubbies, aku ikutan.. seru aja lihat keimutan Teletubbies. Aku sih paling suka PO.. :)

    #SalamKunjunganBalik

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gabe, Si Raja Gundu

Postingan kali ini gue akan menceritakan sejarah yang belum tentu diketahui semua orang. ***** Alkisah ketika kerajaan Majapahit masih berjaya dan Hayam Wuruk belum menduduki tahta kerajaan, diadakanlah sebuah Turnamen Gundu Nasional yang diadakan setiap satu tahun sekali. Setiap provinsi wajib mengirimkan pemain andalannya masing-masing. Selain memiliki nilai gengsi yang tinggi, provinsi yang memenangkan turnamen akan diberi biaya operasional provinsi dengan nilai yang sangat besar selama satu tahun. Saking besarnya biaya operasional yang didapat, warga satu provinsi tersebut ga' perlu bekerja lagi selama satu tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup. Setiap perwakilan yang akan berangkat menghadapi turnamen diarak dan diperlakukan layaknya pejuang yang akan berangkat menuju medan pertempuran. Dan yang bisa membawa pulang kemenangan, akan disambut layaknya pahlawan perang, dan akan dihormati oleh seluruh rakyat provinsi. Tersebutlah Gabe, seorang TKI yang bekerja di Nigeria....

Lembaran Baru, di Buku yang Sama

Jalan hidup sepertinya tak semulus paha cherrybelle keinginan. Ketika hati sudah menetapkan dan mulai memantapkan untuk tinggal di Makassar, turun SK yang mengharuskan gue untuk pindah, pindah dari Makassar, karena perusahaan emang lebih membutuhkan tenaga di tempat yang baru. Dan di Surat Kampret itu menyebutkan bahwa gue harus pindah ke Pulau Bacan. Bacan? Mana itu? Bagi kalian yang ga tau Bacan, kalian perlu 2 barang utama. Yang pertama kalian butuh peta, bisa beli, kalo ga beli ya pinjem lah. Peta Indonesia ya, jangan peta Amerika, apalagi peta Uni Emirat Arab. Ga ada di situ. Karena Bacan itu punyanya Indonesia. Kalo peta udah di tangan, kalian bisa lihat di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Barang kedua yang kalian butuhin adalah kaca pembesar, loop, atau alat semacamnya. Pake loop itu kalian bisa lihat pulau kecil di peta, di bagian bawah Provinsi Maluku Utara, bukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur loh. Nah disitu letak pulau Bacan. Hahahaha

Menghargai yang Dimiliki

Seorang cewek bernama Siti, yang berparas biasa-biasa aja tengah terduduk lesu di kamar kosnya yang gelap. Di luar kilat dan rombongan air menetes dari langit. Lampu di kamar kosnya ga bisa nyala, begitu juga di kamar-kamar yang lain. Bukan karena konsleting listrik, bukan juga karena sekeringnya putus, tapi karena kWh meter prabayarnya lupa diisi pulsa. Berhubung week end , orang di kosnya pada pulang kampung semua. Sedangkan Siti ga bisa pulang karena dia lagi ikut program pelatihan diet massal yang diselenggarakan kampusnya setiap hari Minggu. Otomatis sekarang Siti berteman sepi di kosnya yang gelap. Siti bingung, galau, pikirannya kalut. Dia bingung mau gimana, dia takut sendirian, gelap-gelapan lagi. Mau beli pulsa di luar hujan, jauh lagi, harus lewat jalan darat 50 km, nyebrang pake boat 40 menit, dilanjut renang diantara buaya. Pokoknya jauh lah. Di tangan kanannya, Siti udah megang segelas minuman anggur. Saking galaunya Siti sampai haus, untung aja sebelum mati ...