Langsung ke konten utama

Tragedi Hercules

Sekali lagi Indonesia berduka, karena adanya insiden jatuhnya pesawat Hercules pada hari Rabu (1/7) di Medan yang merenggut korban lebih dari 140 jiwa. Semoga korban diberikan ampunan dosa dan dinaikkan kadar pahala, serta untuk keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran.


Agak menyedihkan memang, kejadian ini terjadi di bulan Ramadhan. Meskipun memang maut itu ga mengenal waktu, dan semua dariNya akan kembali padaNya. Dan yang lebih menyentuh, ternyata korban dari pesawat bukan cuma dari militer, tapi juga dari pihak sipil yang ikut menjadi penumpang pesawat.

Memang bukan rahasia lagi kalau memang tiket pesawat Hercules "diperjualbelikan" untuk khalayak ramai, jadi pesawat yang seharusnya hanya khusus untuk kepentingan militer dan darurat malah dikomersilkan. Banyak pihak sipil dengan berbagai alasan lebih memilih menggunakan "fasilitas" pesawat Hercules dibandingkan pesawat yang memang ditujukan untuk sarana transportasi umum, mulai dari alasan lebih murah, sampai keterbatasan sarana.

Jika ditelisik lagi, sebenarnya fenomena "penghematan" ini bukan cuma terjadi di transportasi udara, bahkan mungkin di semua moda transportasi. Ketika gue dulu masih smp gue dan temen-temen sekolah pernah (pernah loh ya, bukan sering apalagi selalu) numpang mobil pick up buat sekedar menghemat ongkos. Dan bukan cuma gue sih, kaya'nya dari Sabang sampai Merbabu juga banyak yang ngelakuin.

Kalau diinget-inget lagi, sebenernya juga bukan karena ga punya duit sih. Tapi jaman smp dulu kok kaya' sayang, dengan numpang pick up duit yang seharusnya buat ongkos bisa buat jajan beli cilok sebungkus. Kan lumayan.

Masalah kenyamanan jelas bukan hal yang diharapkan. Jika disinggung masalah keamanan dan keselamatan, mungkin jawaban yang keluar antara ngeyel dan ga sadar.

"Kalau ditanya takut ga ada kecelakaan, ya takut. Tapi kecelakaan kan ga lihat-lihat, sarana transportasi umum juga bisa kecelakaan. Yang namanya maut ya maut, ga bisa ditolak." Mungkin dulu itu juga yang jadi jawaban gue kalau ditanya. Tapi kalau sekarang mungkin sudah beda, berhubung sekarang gue udah dewasa (ehem).

Ya memang bener sih, maut ya maut. Tapi kan semua tetap ada usahanya. Misalkan pick up sama angkot dua-duanya kecelakaan, kebalik misalnya, kalau pick up ya penumpangnya kegencet, kalau angkot masih ada harapan selamat. Dengan kata lain "presentase keselamatan lebih besar".

Tapi toh hal ini tetap kembali ke pribadi dan pilihan masing-masing. Pasti ada pertimbangan-pertimbangan yang mendasari pilihan. Dan gue cuma bisa berdo'a dan berharap semoga sarana transportasi di Indonesia lebih dan lebih diperbaiki lagi.

Komentar

  1. naas sih emang tragedi pesawat jatuh kayak gini. belum bisa move on dari qz8501, udah muncul lagi aja pesawat jatuh ya ")

    BalasHapus
  2. tragedi seperti ini bisa sebagai Ujian ataupun sebagai Azab.
    emang bener semua akan kembali padaNya. kadang ketika sesuatu diambil sedihnya iya bnget. saya selalu menekankan ga apa kok diambil, emang udah hakNya.

    Hahaha itu buat kisah smpnya :D yang ongkosnya dpke buat beli cilok

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Do'a Anak Kecil Agar Ramadhan Setiap Hari

"Assalamu’alaikum. Mak, Udin habis dari rumah Pak Mamat." Lapor Udin pada Emaknya. Sebulan setelah bulan Ramadhan lewat. "Tapi Pak Mamat udah ga' mau ngasih makan lagi, ga' kaya' kemarin pas puasa. Pak Mamat selalu mau ngasih Udin makan." "Kata Pak Mamat sih buat bayar fidyahnya soalnya ga' kuat kalau puasa. Lucu ya Mak, Pak Mamat kok ga’ kuat puasa. Udin yang kelas 5 SD aja puasa penuh. Pak Mamat kan badannya gede, sehat.” “Eh, tapi ga' papa ding, kan kalau Pak Mamat puasa Udin malah ga' dapat makan. Hahaha....." Udin tertawa, meralat omongannya sendiri. Tapi Emaknya tidak ikut tertawa. "Jarang-jarang kan Udin bisa makan pakai telur, kemarin malah sempat ada potongan ayamnya." Kenang Udin, sambil mengusap air liur yang mengalir di sudut bibirnya. "Kenapa kalau pas bulan puasa orang-orang pada baik ya Mak?"

Lembaran Baru, di Buku yang Sama

Jalan hidup sepertinya tak semulus paha cherrybelle keinginan. Ketika hati sudah menetapkan dan mulai memantapkan untuk tinggal di Makassar, turun SK yang mengharuskan gue untuk pindah, pindah dari Makassar, karena perusahaan emang lebih membutuhkan tenaga di tempat yang baru. Dan di Surat Kampret itu menyebutkan bahwa gue harus pindah ke Pulau Bacan. Bacan? Mana itu? Bagi kalian yang ga tau Bacan, kalian perlu 2 barang utama. Yang pertama kalian butuh peta, bisa beli, kalo ga beli ya pinjem lah. Peta Indonesia ya, jangan peta Amerika, apalagi peta Uni Emirat Arab. Ga ada di situ. Karena Bacan itu punyanya Indonesia. Kalo peta udah di tangan, kalian bisa lihat di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Barang kedua yang kalian butuhin adalah kaca pembesar, loop, atau alat semacamnya. Pake loop itu kalian bisa lihat pulau kecil di peta, di bagian bawah Provinsi Maluku Utara, bukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur loh. Nah disitu letak pulau Bacan. Hahahaha

Gabe, Si Raja Gundu

Postingan kali ini gue akan menceritakan sejarah yang belum tentu diketahui semua orang. ***** Alkisah ketika kerajaan Majapahit masih berjaya dan Hayam Wuruk belum menduduki tahta kerajaan, diadakanlah sebuah Turnamen Gundu Nasional yang diadakan setiap satu tahun sekali. Setiap provinsi wajib mengirimkan pemain andalannya masing-masing. Selain memiliki nilai gengsi yang tinggi, provinsi yang memenangkan turnamen akan diberi biaya operasional provinsi dengan nilai yang sangat besar selama satu tahun. Saking besarnya biaya operasional yang didapat, warga satu provinsi tersebut ga' perlu bekerja lagi selama satu tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup. Setiap perwakilan yang akan berangkat menghadapi turnamen diarak dan diperlakukan layaknya pejuang yang akan berangkat menuju medan pertempuran. Dan yang bisa membawa pulang kemenangan, akan disambut layaknya pahlawan perang, dan akan dihormati oleh seluruh rakyat provinsi. Tersebutlah Gabe, seorang TKI yang bekerja di Nigeria....